June 11, 2016

Attitude Towards Hardship


Dua kisah dalam alkitab yang menginspirasi kita akan sikap hidup yang benar dalam menghadapi masa-masa sulit.

1) Kisah Tabita (atau Dorkas).
Kisah Para Rasul 9 : 36 - 40
"Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita--dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: "Segeralah datang ke tempat kami." Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup. Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: "Tabita, bangkitlah! " Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk."





Sekilas kalo kita baca, kelihatannya kisah ini bercerita tentang mujizat Tuhan melalui Petrus. Tapi ternyata ada sikap hidup yang Tuhan mau bagikan buat kita. Seringkali di dalam menghadapi setiap permasalahan, kita panik, kita mengamini fakta yang ada di depan kita. Sama seperti sikap janda-janda yang menangisi Tabita yang sangat mereka kasihi. Tapi kita boleh belajar dari sikap Petrus. Pertama-tama dia mengusir janda-janda itu keluar, yang berarti sebaliknya. Dia yakin dan percaya bahwa masih ada pertolongan Tuhan. Petrus berdoa, kemudian berpaling dan melakukan mujizat. Kebanyakan dari kita (termasuk saya) lebih sering menghadapi masalahnya dulu, baru cari Tuhan. Dari firman ini saya belajar bahwa dalam menghadapi masalah, sikap yang benar adalah mencari Tuhan lebih dulu. Percaya bahwa kita perlu kekuatan Tuhan sebelum melakukan bagian kita. 



2) Kisah Hizkia.
2 Raja-raja 20 : 1 - 6
"Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos, dan berkata kepadanya: "Beginilah firman Tuhan: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi. Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada Tuhan: Ah Tuhan, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapanMu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mataMu." Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat. Tetapi Yesaya belum lagi keluar dari pelataran tengah, tiba-tiba datanglah firman Tuhan kepadanya: "Baliklah dan katakanlah kepada Hizkia, raja umatKu: beginilah firman Tuhan, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari ketiga engkau akan pergi ke rumah Tuhan. Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur; Aku akan memagari kota ini oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hambaKu."



Raja Hizkia, salah satu Raja yang pada jaman itu taat pada Allah, divonis oleh Nabi besar (Nabi Yesaya) bahwa sudah tidak ada harapan hidup lagi. Coba bayangkan kalau kita di posisi Hizkia. Pasti kita down, kecewa,dan menerima nasib sebagai takdir Tuhan. Tapi hebatnya, Hizkia tetap mengasihi dan berharap pada Tuhan. Dia tidak menyalahkan tabib-tabib kerajaan atau membesar-besarkan kekecewaannya. Justru sebaliknya, Hizkia memalingkan wajahnya ke arah dinding dan berdoa memohon kemurahan Tuhan. Dan yes, Tuhan perpanjang umurnya selama 15 tahun. 


Dalam masa-masa sulit, sudahkah kita memperbanyak doa-doa kita? Atau apakah justru kekecewaan, kekuatiran, kemarahan, kesedihan yang dibesar-besarkan?

No comments:

Post a Comment